14/01/10

Catatan Lewat 12 Malam

Abu-abu hari itu seketika membiru meski tak meninggalkan kesan mendayu. Parasnya kembali menyuguhkan seutas tali warna cokelat, mengikat kuat. Ikatan demi ikatan pun tersimpul memadu mimpi menanam benih.


Tubuh membeku tercabik cakar-cakar benalu, benalu dari kulit betina. Sedetik, semenit, parasnya berubah serupa kucing memandang nyinyir, dosa apa? ia mulai mengembik meminta susu dari penis harimau.


Telah kucatat detil rindu parasnya setiap lewat 12 malam. Matanya yang selalu berbinar terganti kuning mengkilau, biru mulai mengabur, namun benih cepat sekali menjamur. Warna hitam pada dedaun yang menenangkan mulai memudar berganti hijau.


Aku mencatatnya, setiap detil waktu yang telah jadi benalu mengingatkanku padanya, betina tembaga. Maka kutancapkan belati satu-satu, pada setiap gurat senyumnya yang mengurat memagut karat dan amis, lalu merobeknya serupa kata yang terburai dari kalimatnya.


Aku pun menjadi kutu:


Kutemukan lubang itu di kepalaku, “di sini ia menjadi penyusup.” Kujejal lubang itu, merangsek lewati jutaan memori, dan ketemu: Ia telah menjadi kupu-kupu. Ia tidak terbang, hanya mengepak deras, membisingkan kilatan beban yang lebih dahsyat lewat 12 malam.



2009, Denza Perdana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar