Abu-abu hari itu seketika membiru meski tak meninggalkan kesan mendayu. Parasnya kembali menyuguhkan seutas tali warna cokelat, mengikat kuat. Ikatan demi ikatan pun tersimpul memadu mimpi menanam benih.
Tubuh membeku tercabik cakar-cakar benalu, benalu dari kulit betina. Sedetik, semenit, parasnya berubah serupa kucing memandang nyinyir, dosa apa? ia mulai mengembik meminta susu dari penis harimau.
Aku pun menjadi kutu:
Kutemukan lubang itu di kepalaku, “di sini ia menjadi penyusup.” Kujejal lubang itu, merangsek lewati jutaan memori, dan ketemu: Ia telah menjadi kupu-kupu. Ia tidak terbang, hanya mengepak deras, membisingkan kilatan beban yang lebih dahsyat lewat 12 malam.
2009, Denza Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar