06/02/10

Sejarah Kolam Pancing

Sejarahku bercerita tentang gunung tanpa lahar. Di lerengnya, orang berambut jarang berhamburan merindukan hujan, dan kemarau yang kemarin juga.


Semalam, aku bermimpi ibu sedang menyusun bata di balik dapur tempat ayah memasak telur. Sementara kepalaku terselip di bawah bantal, dan pesan dari mantan pacar:


Memilih itu wajar.


Sejarahku bercerita tentang ikan yang tak mau makan umpan. Hari minggu, mereka libur sesuai jadwal orang-orang berseragam.


Ayahku berkata, ibu lebih suka makan umpan daripada makan ikan.


Kemarin ibu pergi ke pasar membeli sayuran. Sayur yang tumbuh dari kening dan kencing para nelayan.


Tak ada yang salah dengan sejarah, hanya rotan tumbuh di halaman

dan pagar benar-benar makan tanaman.


Ayah tak pernah memukulku dengan rotan. Tapi sekali, ia menamparku dengan ibu

yang termangu dagu saat subuh.

Ah, seperti memancing ikan di hari minggu.


Sekarang, rambutku makin jarang:

Uh, memancing dengan rotan di hari minggu sungguh menyenangkan.


Sebab di luar sana, kolam pancing berhamburan memilih pacar masing-masing.


Denza Perdana, 6 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar