
DINGIN, rasanya benar-benar dingin. Memaksa tubuhku menahan derasnya hujan dan ngilunya tulang-tulangku yang sudah hampir keropos termakan usia ini. Seharusnya rasa dingin dan ngilu ini mampu kutahan karena aku bukan hanya sebuah raga yang terisi dengan jiwa dan ruh. Didalam tubuhku ini masih banyak ragam organ yang menopangku. Aku punya jantung, punya hati dan punya tulang.
Aku adalah tulang rusuk yang menyanggah tiap langkah yang berlomba-lomba untuk segera sampai pada sebuah tujuan. Langkah yang kian berat dan terlampau lambat. Padahal mereka sangat ingin bergegas sampai pada tempat itu, tempat berlabuh bagi jiwa yang haus dan mulut yang lapar.
Rasanya berat dan teramat lelah. Apalagi berdiri di bawah hujan seperti ini. Melawan air dan menantang angin yang terus turun mengguyur pada tubuh kekarku, tubuh yang sudah kutopang dengan seribu tulang rusuk. Aku tulang rusuk yang bukan untuk laki-laki. Aku adalah seorang wanita dengan segala bentuk luka. Pada jiwaku, pada jantungku, pada tulangku, bahkan pada rahimku yang sudah membusuk beberapa tahun yang lalu. Jadi mana mungkin, aku yang sudah lapuk ini merasa mampu menaklukkan dunia dengan segenggam cinta. Jangankan dicintai, kekasihku sendiripun telah tega meninggalkanku sendiri, berjuang melawan hujan yang kini semakin membasahiku.
Aku menggigil kedinginan, bibirku membiru dan beku. Tak dapat kulihat lagi arah langkahku. Mataku semakin perih karena air yang terus memaksa masuk kedalam. Kini, langkahku semakin berat. Berjalan menembus hujan, melangkah melawan badai. Badai angin yang sudah terbiasa datang bersama hujan. Lalu aku akan terus melangkah, tak memperdulikan air yang terus membuat bibirku beku tak merona.
Dingin, udaranya sangat dingin. Membuat semua tulangku kaku, bahkan hampir tak lagi mampu. Namun dingin yang seperti ini bukannya sudah harus kubiasakan, bukankah aku juga pernah merasakan dingin yang lebih luar biasa. Saat aku kehilangan kekasih jiwaku, saat yang kuanggap romantis dan paling syahdu? Saat itu dinginnya melebihi hari ini, hujan juga sangat lebat. Atau, hujan waktu itu yang membuat dinginnya melebihi hari ini? Entahlah, yang kutahu karena saat itu ia meninggalkanku maka rasanya sangat dingin.
Dan kini aku menggendong tiga bocah dalam punggung yang sama. Padahal tubuhku sudah hampir kaku oleh hujan yang tak henti-henti mengguyurku. Kalau saja mereka sudah mampu berdiri dan berjalan sendiri, mungkin langkahku tak seberat ini. Mungkin kini kami sudah mampu melewati badai dan hujan dengan riang. Sampai pada pelabuhan yang kami cita-citakan. Kami akan penuhi mulut kami dengan anggur yang belum pernah kami nikmati sekalipun, juga akan kami buat perut kami buncit dengan semua hidangan mewah kelas atas.
Tapi kanak-kanakku adalah seusia bocah. Mereka tentu belum mampu berjalan dengan benar, belum mampu berlari dengan cepat. Langkah yang selangkah akan semakin membebaniku jika harus menyelamatkan diri dari badai seperti saat ini. Maka kuputuskan memikul mereka semua, bukankah mereka cukup ringan? Tapi kalau tiga sekaligus apa rasanya juga masih ringan?. Mungkin jika ia masih ada, ia akan Bantu aku gendong bocah-bocah ini, ringankan bebanku.
Ribuan hari yang lalu, kekasihku pergi entah ke dunia mana…ia biarkan aku bersama tiga bocah yang belum mampu mengenali arti hujan sekalipun. Ia biarkan aku kedinginan dalam suasana malam. Ia biarkan aku menjadi tulang rusuk dan menggendong ketiga bocah sialan, yang semuanya selalu membuatku tersenyum. Ia sandarkan lukanya pada luka-lukaku. Ia bodoh, ia jahat, ia … sungguh ia kurindukan. Kekasih yang kusayang, yang mengkhianati janji kami-sehidup semati.
Pada hujan dibawah hujan kukuatkan langkahku untuk terus bertahan, melampaui batas kesabaran manusia. Saat-saat seperti ini harusnya aku berdoa pada Tuhan untuk berikan aku hati binatang, biarkan aku menjadi binatang dan dengan kejam tinggalkan tiga bocah ini sendiri pada tanah lapang dibawah hujan. Biar saja mereka menangis, merengek dan teriak. Toh tak mungkin ada orang yang mendengarnya, karena suara mereka akan termakan hujan, bahkan mungkin, tangis mereka akan terbawa hembusan angin. Tapi batinku mengalah, atau lebih tepatnya kusebut kalah. Batinku lebih memilih biarkan hatiku tetap hati seorang manusia, mendengarkan suara hatinya yang iba dan diam-diam mengiyakannya.
Lalu perlahan dan samar kudengar bisik seseorang dibawah hujan, ia bilang sesuatu tapi, ach entah aku tak mampu mendengarnya.
Sungguh hujan sore ini sangat lebat. Rumahku sudah tak mampu menahan air yang seperti luapan emosiku, untuk masuk menggenangi segala perabotan terakhir milik kekasihku yang dengan sah telah menjadi punyaku kini. Hujan sungguh membuat aku merasa gila. Rumahku –jiwaku- hampir terbenam.
Lagi-lagi aku mendengar suara aneh itu, ia berbisik mesra-mengingatkanku pada bisikan suamiku- aku mendengarnya penuh dengan emosi, menikmati tiap suaranya yang masuk dalam kupingku. Syahdu, lembut, dan penuh kehangatan. Suasana romantis seketika itu terbayang seolah memberiku semangat untuk tetap bertahan dalam dinginnya hujan dan derasnya air yang terus mengguyurku dalam kehidupan yang sesungguhnya.
“buang saja anak-anakmu, biarkan mereka berjalan sendiri. Lihat tulang dan gigi-gigi mereka yang lebih sempurna dari punyamu. Tulangnya lebih kuat dari tulangmu, rusuknya jauh lebih banyak dari jutaan rusukmu. Mereka mampu berdiri tanpamu. Lepaskan mereka dan ikuti aku…” Huhg sungguh seperti suatu ajakan yang menggiyurkan. Bayangkan, aku sudah tak lagi lelah ketika nanti kulepaskan bocah-bocahku ini. Tak lagi merasa berat dan terbebani ingin melangkah lebih cepat bahkan berlari agar sampai dan segera berlabuh.
Tapi “tidaaaak” teriakku. Aku menolak segala suara yang menyerupai suara kekasih -suami- ku itu. Aku menggeleng-gelengkan kepala menyerupai kanak-kanak yang menolak minum obat. Aku menangis membayangkan bocah-bocahku sendiri dan terlantar.
“Mereka sudah dewasa, lihatlah dua gadismu, mereka sudah dapatkan kekasihnya. Lalu jejakamu, bulan depan ia akan menikahi wanita yang sama dewasanya dengan dirinya. Mereka sungguh telah dewasa. Tidakkah kau lelah. Hujan ini akan terus dan semakin lebat. Istirahatlah, turunkan mereka dari punggungmu, ajarlah cara berjalan dan berlari hindari badai. Lalu setelah itu, ikuti aku.”
Aku menjadi ragu. Sejenak kupikir, ia benar. Aku lelah, sangat lelah. Bahkan ingin cepat berlari dan hindari hujan. Sungguh lelah sampai tak tahu arah langkah. Tapi sekali lagi tak akan kubiarkan bocah-bocahku sendiri di bawah hujan, kedinginan, dan beku seperti bibirku. Aku punya sejuta rusuk yang menopang raganya, aku punya payung kecil bernama iman, yang cukup untuk kekuatanku sendiri. Aku punya hati yang bukan hati binatang. Meski aku wanita dengan segala luka, pada jiwa, jantung, hati, tulang dan rahimku. Tapi aku yakin luka ini akan sembuh, mereka yang selalu sembuhkanku. Dengan senyuman mereka, dengan kemanjaan mereka serta keceriaan mereka. Mereka yang nantinya sembuhkanku.
Hujan hanya sebentar, bahkan lebih sebentar dari ribuan hari yang kekasihku tinggalkan. Ia akan reda. Apa salahnya bersabar dan menahan dingin?. Rumah -jiwa- ku pun tak akan roboh, meski perabotnya banyak yang hilang dan rusak.
Ah sayang, itu tadi suaramu kah? Maaf, tak bisa temanimu kini, baik-baiklah disana, kami doakanmu-selalu. Maaf sungguh tak bisa temanimu, mungkin puluhan tahun lagi…amin.
Ardhia Tri Andani Putri
09:34
1 oktober 2009
sebuah kado untuk mama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar